What is a Seeds?

"Seeds are the source of life, and also symbols of a civilization. The loss of seed could also the signal the loss of self-pride, cultural identity and civilization of a nation."
Maria Loretha

Maria Loreta Profile


“Sorghum, A Story From Adonara Island”

For centuries Indonesians, across the archipelago, have consumed rice. They have consumed it in such quantities that Indonesians have to import it from neighboring countries which has in turn created problems both in terms of reliance on external sources for food security and lack of land productivity due to over cultivation of rice.

Under the military rule of General Soeharto Indonesia adopted a one-size-fits-all policy geared towards rice consumption, overlooking other potential staple foods including: Sago, Cassava, Corn, and Sorghum.

At present Susilo Bambang Yudoyono’s government is continuing to implement a Letter Of Intent (LOI) from the IMF which necessitates further liberalization of Indonesia’s agricultural market.  The government’s agricultural policy (seed policy) clearly indicates that it seeks to comply with multinational corporate interests. Since 1998 private traders have been given the freedom and permission to import rice with very low tariff. This has undermined farmer’s efforts to promote diverse and less water-intensive food crops.

Maria Loreta, a native of Borneo who moved to East Nusa Tenggara, saw the opportunity of growing Sorghum, a plant that is native of North Africa that arrived in the Pacific region decades ago. Based on Loreta’s observation and research, Sorgum contains a lot more nutrition than rice and it is a lot easier to grow compared to rice. Fighting for equality, prosperity and better nutrition for Indonesia and the world, Loreta has great faith in this possible alternative staple food.

Maria describes her journey to introduce sorghum as “returning home”. People in East Nusa Tenggara consumed corn, banana and foxtail millet before the government started to introduce rice consumption through the green revolution programs in 1963 under the policy of Panca Usaha Tani (Five Agriculture Methods).


The movement was to support Soeharto’s policy of rice self-sufficiency, a target reached in 1984. There were times when farmers still planted sorghum but the government told them to root out the plants and throw them away.


When she visited Manggarai, the western part of Flores, to introduce sorghum, she found deep nostalgia among the farmers. They cried, she said, they were moved that they could cultivate sorghum again.

She won East Nusa Tenggara’s 2011 Academia Award for science and technical innovation and the 2012 Kehati award for her persistence in conserving biodiversity.

Mostly consisting of arid land, Adonara and other parts of East Nusa Tenggara survive with various kinds of food throughout the year. Rice is the last option because dry-land rice is less productive and takes too long to harvest. 


Loreta believes that if the people of East Nusa Tenggara can unite in this mission, the productivity of Indonesia’s land and the income of Indonesia’s farmers can increase greatly. There will also be a positive impact on nutrition, especially for those at higher risk of malnutrition including small children, pregnant women and nursing mothers..

Farms are much more than just producers of food.  Above all, farms are places for families, they are embedded in communities, with their culture, history, relationships and social dynamics.  A farm is not a factory, and this is the fatal flaw of the so-called “green revolution” agricultural model – it seeks to industrialize farms and turn farmers into factory workers.  Farmers, men and women, have stories to tell, they constantly adjust and readjust their strategies to cope with uncertainty and instability, be able to observe changes, expand diversity and experience a close relationship with nature.


Maria LORETA STATEMENT:

“Seeds are the source of life, and also symbols of a civilization. The loss of seed could also the signal the loss of self-pride, cultural identity and civilization of a nation.

There are many things to think about food, especially in NTT,(East Nusa Tenggara), Indonesia, and the world. When talking about food, we cannot forget the issue of nutrition, nutrition habits and local knowledge, which contributes to climate change. Well how about all those global thinking by involving directly the role of farmers in the countryside as a producer. This is what I am working for since 2007 to save the germ plasm. Local native seeds are very adaptive and cost efficient so we could cultivate the seeds and distribute them to farmers in need.

The mission for the good of humanity did not dampen my pace to keep walking, stepping the barriers/obstacles that I went through. All of this makes me even keener to see in depth and in a more focused way what I have done.”

Table 1








Maria Loretha : Pioner Pangan Lokal dari Timur


Maria Loretha sedang memperlihatkan hasil sorgum
dari kebunnya. (Foto : FBC/ Nando Watu)
LARANTUKA, FBC- Ketika dunia tengah dilaburi oleh aneka suguhan makan cepat saji, santapan instan berseliweran di pelataran  toko- dan rumah makan,  animo massa tengah digiring untuk menikmati dan mengkonsumsi apa yang  mudah tersaji, di sanalah letak kemoderanan peradaban, demikian anggapan khalayak massa, tentang  makanan konsumsi global.

Padahal di balik suguhan yang bernuansa lintas batas itu belum tentu kaya akan gizi dan protein. Kini dari timur, mulai diperkenalkan makanan khas lokal, sorgum, jewawut dan aneka pangan lokal olahan sang pioner, Ibu Maria Loretha.

Pangan lokal yang kaya akan muatan gizi  tengah memancarkan keindahannya di pusaran bumi NTT. Budidaya lokal dengan segala keterbatasan sarana mulai coba digalakkan dari  bumi Timur, Adonara, Flores Timur NTT. Ini kisah ibu Maria Loretha, Petani Sorgum yang sukses dari Adonara.

Sorgum dengan aneka warna (Foto : FBC/Nando Watu)
Kediaman Maria Loretha tampak begitu sederhana, hanya berdinding pelupu beratap daun kelapa, lantainyapun hanya tanah tanpa beralaskan semen. Namun dalam kesederhaan rumah seperti itu, justru menyimpan segudang potensi pengetahuan pangan lokal dan produk serta aneka penghargaan terpampang disana. Sebagaimana terlihat, di atas dinding pelupu,  bertengger sejumlah penghargaan baik itu sertifikat maupun piala penghargaaan dari tingkat lokal, nasional bahkan internasioal.

Kedatangan team  Flores Media Fam Trip pada Rabu malam 23 Mei  membuat ibu Maria Loretha merasa bangga, “Ini adalah kunjungan yang terbesar dari luar. Selama ini memang sudah ada kunjungan dari OxfamAustraliadan juga teknik dari Belanda tapi tidak sebesar jumlah ini,” tutur Loretha dengan bangganya menyambut kehadiran para jurnalis.

Tahun lalu saya mendapat penghargaan dari Kartini Awards karena telah memperjuangkan pengembangan varietas unggulan lokal berupa sorgum, jewawut dan padi ladang serta umbi-umbian, tambah ibu 4 anak ini.

Kehadiran para jurnalis  dari berbagai mediamassadan elektonik sungguh disambut ibu Maria Loretha dengan santun dan hangat. Suguhan kolak  dari bahan dasar sorgum menjadi santapan penyedap lidah di malam itu. “wah enak luar biasa dan lembut” jawab salah seseorang yang menikmati  kolak sorgum tersebut.

Sorgum hasil buah tangan Maria Loretha tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri, namun berbagai hasil yang telah diperolehnya dikebun yang berluas sekitar 2 ha justru menjadi kebun contoh bagi kelompok-kelompok pertanian sorgum di Wilayah NTT.

“Kami hanya menanam dan setelah mendapatkan hasilnya, jewawut, sorgum padi kami berikan kepada kelompok tani lain yang mau mengembangakannya, gratis tanpa dipungut biaya. Hingga kini sudah ada banyak kelompok tani yang tersebat di NTT yang mengelolah lahan kering dengan menanam sorgum dan padi serta umbi-umbian,” tambah perempuan yang penah mendapat penghargaan Academia  NTT Awards tahun 2011 lalu ini.

Menurutnya, NTT  tidak akan rawan pangan jikalau para petani pintar untuk mengolah lahan yang ada. ”Selama ini pengolahan lahan pertanian hanya pada musim tanam pertama, sedangkan musim tanam kedua lahan kosong tidak digarap, pada mustim tanam kedua inilah sebenarnya kita bisa kelolah tanaman ini, sehinggaNTT tidak mungkin akan rawan pangan, himbau Maria yang pernah masuk dalam acara Kick Andy ini.

Maria Loretha tengah membersihkan kebun sorgumnya.
(Foto : FBC/Nando Watu)
Tanaman sorgum dan jewawut serta tanaman ladang kering sangat cocok untuk daerah NTT dan dari sisi nilai gizi memiliki keunggulan selain memiliki kadar yang kaya akan kalsium, protein dan karbohidrat yang tinggi, secara ekonomis sangat menguntungkan misalnya beras hitam tidak kurang dari 20 per kg kalau dijual, selain itu juga tanaman lokal ini tanpa pupuk dan sangat  kebal terhadap hama dan penyakit.

Berbagai daya dan upaya coba digalakkan, istri dari Bpk. Yery Letor ini untuk melakukan persilangan agar mendapat varietas unggulan.  “kami pernah membuat persilangan antara padi hitam dan padi putih dan hasilnya lumayan, namun kita lakukan masih dengan cara yang sederhana.

Tak Hanya Bernilai Ekonomi
Karena begitu terpesona dengan harta berharga dari mama Loreta, keesokan harinya, Kamis 23/5 para jurnalis kembali datang berdiskusi dan melihat langsung kebun olahan mama Maria.

Sorgum tidak hanya bernilai ekonomis namun kuat karena berakar serabut, batangnya bisa dimanfaatkan untuk jadikan gula, perlu diketehui bahwa gula yang berasal dari  batang sorgum mengandung kalsium yang tinggi dan orang-orang cina menggunakan ini untuk pengganti gula, bagian atasnya untuk makanan ternak, yang takutnya adalah hewan ternak, misalnya ayam atau sapi atau kerbau dan kambing.

Hasil panen pangan lokal dibungkus sebagai bibit.
(Foto : FBC/Nando Watu)
Selain dari itu dijamin tidak akan terserang penyakit danhamadan daun sorgum memliki lapisan lilin dan menghindar dari penguapan yang berlebihan, tak heran bila dia tahan sekalipun musim berganti, Loretha menjelaskan.

Bagaimana dengan pemasaran? Loretha dengan yakin dan tegas bahwa kita tanam yang utama hasilanya adalah untuk kebutuhan makanan harian, jadi jangan dulu menanyakan berapa harga jualnya tapi tanyakan berapa hasil yang mereka peroleh. Jika ada yang menjula, loreta menambhakan semuanya dijual per kelompok tani dalam organisasi bukan secara individu.

Managemen dalam kelompok tani menjadi penting dan kerjasama lintas kelompok akan mambantu memperluas wawasan karena itu, Loretha yang juga Ketua Kelompok tani dari kelompok Cinta Alam Pertanian ini telah melakukan kerjasama dengan berbagai kelompok tani di daratan Flores.

Piala Penghargaanyang diperoleh Maria Loretha
atas kesuksesan mempertahankan bibit unggul.
(Foto : FBC/Nando Watu)
Kerjasama apel dan cap 9, dalam pengembangan pangan lokal, sorgum, jagung solor, jelai, jewawut, wijen dan umbi-umbian, seperti di daerah Ondorea Barat kecamatan Nangapanda, Kabupten Ende. Kerjasama dengan Kelompok tani Ile Mandiri kecaman Flores Timur, selain itu Kelompok cinta Alam pertanian juga bekerjasama dengan beberapa  Wilayah pengembangan NTT mencakup :, Maumere, Ende, Nagekeo, Manggarai Barat, Sabu Raijua, Sumba TImur,  Kabupten Kupang dan Belu dengan jumlah  Anggota 214 perempuan, 680 laki-laki.

Berkat keuletan dan ketekunan, wanita yang berasal dari Kalimantan Barat ini sekitar 2 bulan sekali menginjakkan kaki di kota metropolitan Jakarta untuk mengikuti berbagia pertemuan pangan baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional.

Dalam waktu dekat ini pertemuan tanggal 26-28 Mei saya akan ke Jakarta untuk mengikuti pertemuan  Asian Farmers yang diikuti oleh sejulah negara Asia seperti, kamboja, Vietnam, philpina, Thailand, malaisia tanggap Wanita yang lulus  jurusan Hukum Universitas Merdeka  tahun 1997-1998 ini. (Nando Watu)



No comments:

Post a Comment